tanpa judul

October 5, 2007

Aku menjadi derita berkepanjangan bagi seseorang yang seharusnya berada dalam ranah kesukacitaan. Ia layak berjalan di hamparan permata dengan lukisan yang berkilau emas.
Aku adalah kemarau di musim hujan, menggurita dengan kehampaan yang penuh dengan tangisan, darah yang mengalir pun tak terasa pahit getirnya. Bersama rinai hujan aku terbawa terhapus dari bayang-bayang kelambu senja.
Aku berlari di bawah rintik-rintik air yang turun behamburan dari gemawan yang berarak, dengan kilauan mentari yang redup. Disudahi, pelarianku dengan hunusan pedang yang bersarang pada realita dan labirin tabir mimpi.
Aku biarkan air mata tergenang membentuk danau pelarian yang hitam kelam, kepekatannya bagai sinar malam yang gundah gulana.
Aku hentikan tatapan mata yang nanat, bergelayut di dalam hembusan ruh yang mengekal dan tak bertepi.
Bersama dentuman ombak menghantam karang, aku terbaring di syahdu pagi yang kelam.
Eginamakoe
Jatinangor, 1 November 2004

Syaila Ketika aku memanggil dalam tidurku, entah kenapa, namaMUlah yang selalu kusebut. Sore hari yang tenang, dikala hewan malam bersiap diri untuk pementasannya di malam hari, aku terduduk di sebatang pohon tua. Terdiam merenung, tanpa berkata-kata, hanya kepulan asap rokok dan secangkir kopi hitam yang menemani lamunanku. Guratan senja menjadi pemandangan alami yang pada akhirnya mampu menerbangkan khayalku ke langit yang tertinggi. Angin yang membelai tengkuk leherku pun berkata “ sabarlah kau disini, nanti, kau akan melihat sesuatu yang tak pernah kau bayangkan. Tapi itu nanti…” Tak sadarlah aku akan perkataan Sang Angin yang membisik, keheranan mengisi kesadaranku, yang berbaur dengan tanda tanya besar. Apakah, siapakah, kapankah, dimanakah…. Tak kukira, secara tiba-tiba Angin mengajak aku untuk berfikir akan perkataannya, kenapa aku yang diajak berbicara, bukan pada dedaunan, bebatuan, atau gemawan yang selama ini menjadi sahabat setianya dalam permainan yang rutin mereka lakukan. Tiba-tiba, Burung-Burung yang berlari-larian di angkasa, seakan-akan memberikan petunjuk atas segala kebingungan yang melanda diriku, hatiku, pikiranku dan tirani kesadaranku. “Ke pangkuan dunialah kau ! ” ujar Burung-Burung yang berarak. Perkataan itu spontan keluar dari paruh Mereka, disela-sela kepakan sayap Mereka, ditengah-tengah perjalanan dalam mencari kehangatan mentari. “ Ke pangkuan Dunia ??”, aku bergumam mempertanyakan jawaban yang diberikan oleh Burung-Burung tadi. Dimanakah itu ? Kemanakah aku harus mencari, atau Pangkuan Dunia tersebut telah lama bersembunyi hingga pencariannnya akan sangat menyulitkanku. Sebatang pohon tua masih menjadi tempat untuk aku memandang langit sore hari. Rerumputan yang berada disekitarnya hanya bisa terdiam tak bergerak. Tanah yang menjadi pijakan rerumputan tersebut terkulai lemas, tak mampu membuka ruang-ruang gelapnya. Perenunganku terkonsentrasi pada pernyataan Sang Angin dan jawaban para Burung. Inikah terobosan dari beragam kemelut diseputar kehidupanku selama ini. Jelaslah, aku terpedaya oleh ketidakjelasan yang jelas-jelas menjelaskanku pada sesuatu yang sebenarnya jelas bagi sebuah ketidakjelasan. Aku tetap terpatri ditepian sadar, dikemelut khayal dan diseberang kebenaran, terpaku pada kenyataan yang menerangkan sesuatu akan ketidakpastian. Sebenarnya, aku bergerak dalam kepura-puraan yang selalu menghantui hingga pada akhirnya, kesejatian pun seakan-akan berlari pergi dari genggaman keinginan. “ Hei, katakanlah siapa yang sebenarnya mengatakan itu semua !!!” “ Bukankah kau benar-benar tidak tahu akan realita yang menyelimutiku selama ini !!!” “ Bukankah kesejatian itu tidak akan pernah bersemi di ladang absurditas!!!” “ Kaukah itu Sang Angin yang berbisik kepadaku ?!” “ Benarkah Kalian Para Burung yang memberikan jawaban atas pernyataan yang mengalienasikan aku dari Kesadaran ?!” Secara tiba-tiba, pandangan aku gelap, tak berwarna apapun, hanya satu warna hitam kelam. Kondisi kegelapan yang gulita menghampiri diriku. Tak mampu aku melihat sesuatu yang ada di sekitarku. Aku merasakan hawa dingin yang sangat, menusuk tulang belulangku, seperti berada di ufuk dunia yang diselimuti oleh gunung-gunung es tanpa terbalut oleh sehelai benang pun, membuat terngiangnya kedua telingaku. Darah mengalir dari kedua lubang hidung dan telinga, kemudian darah kental kumuntahkan dari mulutku. Entah, apa yang terjadi kini, menghantamku secara tiba-tiba, kejadian yang datang tanpa mengucapkan kata-kata permisi yang santun, degradasi harapan pun menguak kehampaan seketika. Rantai besi yang panjang melingkari pergelangan kaki dan tanganku, aku tidak mengetahu kedatangannya, kucoba menggerakkan tiap-tiap lekuk tubuhku. Sangat berat, tidaklah aku berdaya, ketidakmampuan menggenangi seluruh tubuhku, menenggelamkan semua pertanyaan yang sebelumnya hadir, hanya keinginan yang mengekal untuk lepas dari situasi ini. “ Ach…tidak !!!” “ Jangan kau ambil….” “Jangan….jangan…ja….ngan…” “Ach…tidak…tidak…tiii…daaak!!!” “ Matikan aku dalam kematian bila Kau izinkan!!” “ Asalkan jangan kau ambil sesuatu yang hidup dari kehidupanku!!!” “..Ach…” “ Tiadakan aku dalam ketiadaan!!” “ Asalkan jangan kau tiadakan sesuatu yang ada dari keadaanku!!” Aku terkejut mendengar semua kata-kata itu, sungguh !. Aku benar-benar terkejut. “ Apa itu, darimanakah asal suara itu?”, tanyaku dalam kesepian yang tiada tara. “ Siapakah itu yang berkata?” kembali aku bertanya dalam keheningan. Kilatan-kilatan cahaya melintas dihadapanku, semeter didepan tempatku terkulai lemas. Merah, biru, kuning, merah, kuning, biru. Biru, kuning, merah. Hijau, merah, kuning, biru. Sangat cepat dan tak tahu arah kemana kilatan-kilatan tersebut tertuju. Darimanakah asalnya suara-suara itu, kilatan-kilatan cahaya itu, dimanakah aku kini. Siapa yang membawa aku kemari, aku tidak pernah meminta dan mengijinkan untuk dibawa ketempat yang sangat asing ini. Tubuhku dibasahi oleh peluh yang terus menerus mengucur dari pori-pori, darah yang mengalir dari kedua lubang hidung dan telingaku, amis menyengat, mempolakan tindakan kekejaman yang sedang berlaku disekitar aku. Situasi keterpaksaankah yang menghantui secara nyata di tepian khayalku ini, atau realita yang terbangun dari sekelumit kegelimangan yang selama ini melingkari kehidupanku. Aku mencoba berteriak, ya, berteriak…. Tidak bisa ! hanya gerakan mulutku yang ada, tanpa bisa mengeluarkan teriakan yang sudah tersusun sebelumnya didalam otakku. Kembali kucoba…. Tetap tidak bisa. Sebelumnya, padahal aku bisa mengeluarkan kata-kata dengan sedikit berbisik, tetapi, tetapi sekarang sama sekali tidak bisa. Sama sekali tidak ada kemampuan untuk mengeluarkan teriakan yang bisa membantu aku untuk mengetahui keberadaanku kini. Aku ingin meminta tolong bagi mereka, yang setidaknya senasib sama denganku, yang berada di sekitar aku. Kucoba kembali, sudah tak terhitung, beberapa kali aku sudah aku mencoba dan tidak berusaha untuk menyudahinya. Kupejamkan keduamata, kuoptimalkan pendengaran dari kedua telinga, kukerahkan seluruh tenaga yang masih tersisa, sambil kukepalkan kedua tangan, kukencangkan otot-otot yang membentang pada tubuh yang telah lemas terkulai sebelumnya……… “Syaiiiii………lllaaaaaa…………….” “Syaiiiii………lllaaaaaa…………….” “Syaiiiii………lllaaaaaa…………….” Dalam senja hari, Februari akhir 2006 e-Legi – eginamakoe

October 5, 2007

Ketika aku memanggil dalam tidurku, entah kenapa, namaMUlah yang selalu kusebut.

Sore hari yang tenang, dikala hewan malam bersiap diri untuk pementasannya di malam hari, aku terduduk di sebatang pohon tua. Terdiam merenung, tanpa berkata-kata, hanya kepulan asap rokok dan secangkir kopi hitam yang menemani lamunanku.
Guratan senja menjadi pemandangan alami yang pada akhirnya mampu menerbangkan khayalku ke langit yang tertinggi. Angin yang membelai tengkuk leherku pun berkata “ sabarlah kau disini, nanti, kau akan melihat sesuatu yang tak pernah kau bayangkan. Tapi itu nanti…”
Tak sadarlah aku akan perkataan Sang Angin yang membisik, keheranan mengisi kesadaranku, yang berbaur dengan tanda tanya besar. Apakah, siapakah, kapankah, dimanakah….
Tak kukira, secara tiba-tiba Angin mengajak aku untuk berfikir akan perkataannya, kenapa aku yang diajak berbicara, bukan pada dedaunan, bebatuan, atau gemawan yang selama ini menjadi sahabat setianya dalam permainan yang rutin mereka lakukan.
Tiba-tiba, Burung-Burung yang berlari-larian di angkasa, seakan-akan memberikan petunjuk atas segala kebingungan yang melanda diriku, hatiku, pikiranku dan tirani kesadaranku.
“Ke pangkuan dunialah kau ! ” ujar Burung-Burung yang berarak. Perkataan itu spontan keluar dari paruh Mereka, disela-sela kepakan sayap Mereka, ditengah-tengah perjalanan dalam mencari kehangatan mentari.
“ Ke pangkuan Dunia ??”, aku bergumam mempertanyakan jawaban yang diberikan oleh Burung-Burung tadi. Dimanakah itu ? Kemanakah aku harus mencari, atau Pangkuan Dunia tersebut telah lama bersembunyi hingga pencariannnya akan sangat menyulitkanku.
Sebatang pohon tua masih menjadi tempat untuk aku memandang langit sore hari. Rerumputan yang berada disekitarnya hanya bisa terdiam tak bergerak. Tanah yang menjadi pijakan rerumputan tersebut terkulai lemas, tak mampu membuka ruang-ruang gelapnya.
Perenunganku terkonsentrasi pada pernyataan Sang Angin dan jawaban para Burung. Inikah terobosan dari beragam kemelut diseputar kehidupanku selama ini.
Jelaslah, aku terpedaya oleh ketidakjelasan yang jelas-jelas menjelaskanku pada sesuatu yang sebenarnya jelas bagi sebuah ketidakjelasan.
Aku tetap terpatri ditepian sadar, dikemelut khayal dan diseberang kebenaran, terpaku pada kenyataan yang menerangkan sesuatu akan ketidakpastian. Sebenarnya, aku bergerak dalam kepura-puraan yang selalu menghantui hingga pada akhirnya, kesejatian pun seakan-akan berlari pergi dari genggaman keinginan.
“ Hei, katakanlah siapa yang sebenarnya mengatakan itu semua !!!”
“ Bukankah kau benar-benar tidak tahu akan realita yang menyelimutiku selama ini !!!”
“ Bukankah kesejatian itu tidak akan pernah bersemi di ladang absurditas!!!”
“ Kaukah itu Sang Angin yang berbisik kepadaku ?!”
“ Benarkah Kalian Para Burung yang memberikan jawaban atas pernyataan yang mengalienasikan aku dari Kesadaran ?!”
Secara tiba-tiba, pandangan aku gelap, tak berwarna apapun, hanya satu warna hitam kelam. Kondisi kegelapan yang gulita menghampiri diriku. Tak mampu aku melihat sesuatu yang ada di sekitarku.
Aku merasakan hawa dingin yang sangat, menusuk tulang belulangku, seperti berada di ufuk dunia yang diselimuti oleh gunung-gunung es tanpa terbalut oleh sehelai benang pun, membuat terngiangnya kedua telingaku. Darah mengalir dari kedua lubang hidung dan telinga, kemudian darah kental kumuntahkan dari mulutku.
Entah, apa yang terjadi kini, menghantamku secara tiba-tiba, kejadian yang datang tanpa mengucapkan kata-kata permisi yang santun, degradasi harapan pun menguak kehampaan seketika.
Rantai besi yang panjang melingkari pergelangan kaki dan tanganku, aku tidak mengetahu kedatangannya, kucoba menggerakkan tiap-tiap lekuk tubuhku. Sangat berat, tidaklah aku berdaya, ketidakmampuan menggenangi seluruh tubuhku, menenggelamkan semua pertanyaan yang sebelumnya hadir, hanya keinginan yang mengekal untuk lepas dari situasi ini.
“ Ach…tidak !!!”
“ Jangan kau ambil….”
“Jangan….jangan…ja….ngan…”
“Ach…tidak…tidak…tiii…daaak!!!”
“ Matikan aku dalam kematian bila Kau izinkan!!”
“ Asalkan jangan kau ambil sesuatu yang hidup dari kehidupanku!!!”
“..Ach…”
“ Tiadakan aku dalam ketiadaan!!”
“ Asalkan jangan kau tiadakan sesuatu yang ada dari keadaanku!!”
Aku terkejut mendengar semua kata-kata itu, sungguh !. Aku benar-benar terkejut. “ Apa itu, darimanakah asal suara itu?”, tanyaku dalam kesepian yang tiada tara. “ Siapakah itu yang berkata?” kembali aku bertanya dalam keheningan.
Kilatan-kilatan cahaya melintas dihadapanku, semeter didepan tempatku terkulai lemas. Merah, biru, kuning, merah, kuning, biru. Biru, kuning, merah. Hijau, merah, kuning, biru. Sangat cepat dan tak tahu arah kemana kilatan-kilatan tersebut tertuju.
Darimanakah asalnya suara-suara itu, kilatan-kilatan cahaya itu, dimanakah aku kini. Siapa yang membawa aku kemari, aku tidak pernah meminta dan mengijinkan untuk dibawa ketempat yang sangat asing ini.
Tubuhku dibasahi oleh peluh yang terus menerus mengucur dari pori-pori, darah yang mengalir dari kedua lubang hidung dan telingaku, amis menyengat, mempolakan tindakan kekejaman yang sedang berlaku disekitar aku. Situasi keterpaksaankah yang menghantui secara nyata di tepian khayalku ini, atau realita yang terbangun dari sekelumit kegelimangan yang selama ini melingkari kehidupanku.

Aku mencoba berteriak, ya, berteriak….
Tidak bisa ! hanya gerakan mulutku yang ada, tanpa bisa mengeluarkan teriakan yang sudah tersusun sebelumnya didalam otakku. Kembali kucoba….
Tetap tidak bisa. Sebelumnya, padahal aku bisa mengeluarkan kata-kata dengan sedikit berbisik, tetapi, tetapi sekarang sama sekali tidak bisa. Sama sekali tidak ada kemampuan untuk mengeluarkan teriakan yang bisa membantu aku untuk mengetahui keberadaanku kini. Aku ingin meminta tolong bagi mereka, yang setidaknya senasib sama denganku, yang berada di sekitar aku.
Kucoba kembali, sudah tak terhitung, beberapa kali aku sudah aku mencoba dan tidak berusaha untuk menyudahinya. Kupejamkan keduamata, kuoptimalkan pendengaran dari kedua telinga, kukerahkan seluruh tenaga yang masih tersisa, sambil kukepalkan kedua tangan, kukencangkan otot-otot yang membentang pada tubuh yang telah lemas terkulai sebelumnya………
“Syaiiiii………lllaaaaaa…………….”
“Syaiiiii………lllaaaaaa…………….”
“Syaiiiii………lllaaaaaa…………….”
Dalam senja hari,
Februari akhir 2006
e-Legi – eginamakoe

kesaksian yang membisu

September 23, 2007

Kesaksian  yang Membisu

dalam kesendirian

Suatu sore yang takjub, lembayung begitu membara menyelimuti bumi bersedih dan menggila, meradang pada satu kisah lama. 

Bulan pun mulai berias untuk terlihat cantik dikala malam datang menjemput, terlihat diujung -pojokan toko di pusat kota- sana seorang pengemis pun beringsut pergi meninggalkan tempat kerja yang sehari-harinya menjadi pendudukan untuk makan tiga kali sehari.

Jam tidur bagi anak-anak yang masih membutuhkan banyak ruang-waktu untuk pertumbuhan, dikala hewan malam berlalulalang dengan masing-masing kesibukannya, cercahan sinar mulai memasuki relung-relung kesendirian yang penuh akan dinamika kerinduan.

Akulah yang gundah gulana, tetesan air mata mengalir begitu lambat membuktikan tiada hari yang begitu berat menganalogikan sebuah kekerasan yang formal oleh garis-garis keTuhanan.

Keakuan meresapi bara api kesendrian, sunyi memaknai satu hal kebiruan layaknya anak kecil mengulum lidahnya sendiri menahan haus. Kuasa alam pada sejumlah tabir mimpi, batas-batas tak bertuan dan keping-keping kenyataan mengalami keresahan senin pagi dimulaikannya lembar-lembar catatan keterasingan.

Butir-butir khayali menggelorakan ketakutan pada detik-detik yang berjalan, mengumbar kesedihan manusia yang tertidur ditepian sungai, diiringi gesekan rumpun bambu bernada liris dan lirih.

Lihatlah bintang yang bersinar, melambangkan keterpurukannya siang hari dan sekelumit keresahan serta merta menggerayangi sejumlah gemunung yang kaku oleh kabut dan awan gemawan. Dibaluti terpaan angin ketinggian dan rerumputan di sabana yang menghijau, mungkin akan berubah menjadi kecoklatan.

Kukatakan kembali pada langit yang pekat menghitam, buanglah jauh-jauh kesunyian dan kesedihan yang dibawanya dengan bangga. Biarkan manusia mencinta dalam warna-warni yang cerah

Tidaklah mawar yang layu untuk dipersalahkan oleh sekelumit daya khayali untuk menembus pesona yang menghilang ditelan oleh kepekatan malam yang selalu menghadang dengan sengaja dan tak berdosa.

Ruang kamar, 13 Maret 2004

14.35

tentangkoe

September 23, 2007

tawa sudah tidak memiliki makna. Di waktu lekuk tubuh dari pepohonan menggambarkan alur hidupnya yang penuh dengan guratan birahi, disaat embun tidak lagi mengendap di pagi hari”

“bila kau tahu arti cinta yang diberikan sesosok bayang semu, tak kasat mata. Begitu membuai, begitu membara, bergelora. Hanya kehampaan yang terkadang berlalu pergi, tanpa pamit, ia pun merasa sendiri “. Kau katakan itu kepadaku, dan kau berlalu waktu hujan bertamu disiang hari.

Hello world!

September 23, 2007

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!